Sunday, 7 July 2013

6000 Orang Lebih Daki Lawu tiap Tahun

Di puncak G.Lawu, anak-anak RESMPALA.
       Gunung Lawu minggu(9/2), Tim “Ngangsu Kaweruh” dan anggota CML (cah Magetan Library) melakukan travelling yang tidak mengeluarkan banyak rupiah tetapi menyehatkan, menyenangkan, sekaligus menguji adrenalin. Salah satu tempat yang kami kunjungi cemoro Kandang (bukan sejenis kandang). Cemoro kandang adalah pos pemberangkatan rute pendakian gunung lawu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Letaknya cukup dekat dari Sarangan dan sangat dekat dengan Cemoro Sewu (Magetan Jawa Timur).  
       Dalam acara "ngangsu kaweruh" kali ini, para anggota mendapatkan kesempatan untuk menggali informasi serta mengucap syukur atas ciptaan Tuhan. Pak Kamto salah satu penjaga pos di Cemoro Kandang memaparkan tempat yang dikelola Perhutani ini diresmikan sekitar tahun 1980-an. “Walaupun letaknya di Provinsi Jawa Tengah tetapi kebanyakan pengunjung berasal dari Jawa Timur,” ujar bapak bertopi hitam itu. Untuk urusan pendaki, tiap tahunnya lebih dari 2000 pengunjung di Cemoro Kandang. Pada musim liburan pengunjung kebanyakan adalah pelajar SMA dan mahasiswa. Mereka datang ke Cemoro Kandang untuk berlibur sekaligus menyalurkan hobi mereka, mendaki gunung. Namun di bulan Suro pendaki kebanyakan adalah orang tua yang akan melakukan ritual. 
       Di jalur Cemoro Kandang terdapat 5 pos penjagaan sampai di puncak, dengan jarak tiap pos sekitar 1,5 km. Menurut Pak Kamto, jarak ke puncak kurang lebih 13 km dengan waktu tempuh sekitar 6-7 jam bagi yang sudah terbiasa, dan 10-12 jam untuk pemula. Kami sempat mewawancarai salah seorang pengunjung, Aan. Pengunjung berpostur tinggi ini mengatakan, fasilitas yang disediakan di Cemoro Kandang sudah lumayan memadai, jadi kita tak perlu repot membawa banyak bahan makanan karena di atas juga ada penjualnya. 
       Adapun sebelum melakukan pendakian atau sekedang berjalan-jalan para pengunjung membaca larangan yang ada di papan dekat pintu pos. Larangan bagi pendaki tersebut adalah : • Membuat/ melewati jalur terobosan • Memisahkan diri dari rombongan • Menggunakan obor untuk penerangan • Meninggalkan api unggun yang masih menyala • Memotong/merusak pepohonan • Membuat tanda-tanda petunjuk liar/ corat-coret • Berlagak sombong sok dan congkak Larangan-larangan tersebut harus kita patuhi demi keselamatan kita dan keselamatan alam kita. Pernah pula terjadi beberapa insiden (kecelakaan) yang dialami oleh pendaki. Seperti terpeleset, jatuh, sampai ada yang meninggal. Kejadian terakhir terjadi 3 tahun lalu , ada seorang pendaki yang tewas karena jatuh terpeleset. 
       Sementara itu di jalur pendakian Gunung Lawu melalui Cemoro Sewu Magetan, Jawa Timur. Tim Ngangsu Kaweruh meneui Danu, seorang pendaki yang sudah lama di Cemoro Sewu, asal wonogiri. Menurut Danu, pendakian ke puncak dari Cemoro Sewu memakan waktu antara 8 jam dengan jarak 10 km. Terdapat pula 5 pos sampai ke puncak, yang menjadi medan tersulit adalah pos 3-4. Sementara itu, menurut Wahyu warga yang menempati daerah sekitar pos Cemoro Sewu ini. Cemoro sewu di sahkan sekitar tahun 1950, terletak di perbatasan Jatim (Jawa Timur) dan Jateng (Jawa Tengah) di jembatan kalidono. 
       Untuk urusan pendaki, Cemoro sewu tiap tahunnya lebih dari 5000 orang. Paling banyak adalah bulan muharam (Hijriyah) dan agustus (Masehi) terkadang sewaktu ada event tanggal 20 april. Mayoritas berasal dari pulau jawa, tapi merata, mulai Banten sampai Banyuwangi. Adapun larangan untuk pendaki di Cemoro Sewu adalah sebagai berikut: • Memakai baju hijau alasan dengan logika baju hijau menyerupai dedaunan jika nanti hilang akan sulit untuk di temukan. • Ikat kepala corak dadung melati alasannya yang memakai corak tersebut hanya keluarga keraton. • Jangan ambil apapun kecuali gambar. • Jangan membunuh apapun. • Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak terkadang pengunjung akan meninggalkan sampah yang hanya akan mengotori lingkungan sekitar. • Bagi wanita yang datang bulanan disarankan tidak ikut mendaki karena dikawatirkan emosi dan fisiknya tidak stabil. 
       Di Cemoro Sewu terdapat beberapa wisata di jalur pendakiannya, antara lain tempat pamukso atau tempat hilang. Terdapat juga arca peninggalan jaman dahulu dan tiap muharam datang tamu istimewa dari keraton. Kata @tyasharyadi (pendiri CML) yang memberi panduan tim, "mendaki gunung melatih kita untuk pantang menyerah mencapai tujuan dan mengajari kita tentang kesabaran,". Jadi, anggaplah alam adalah sahabat dan saudara kita. salam NGANGSU KAWERUH! (oleh : Dw/Nov/ Ay/Al/Ty)

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2014 CM Travel